header image
 

Diya…

Selama ini, saya hanya menulis untuk menggambarkan apa yang saya rasakan.
Gaya penulisannya pun seolah saya sedang berbicara. Namun kali ini, saya
tidak akan menceritakan atau menggambarkan perasaan yang sedang saya
rasakan. Saya ingin menceritakan tentang seseorang yang entah sejak kapan
telah menjadi salah satu orang yang penting bagi saya. Dia adalah
Diya.

Diya adalah sesosok laki2 yang yah… mungkin kurang dapat menarik
perhatian orang2… apalagi untuk seorang wanita. Tapi entah kenapa justru
saya tertarik. Banyak orang yang heran karenanya, bahkan orangtua saya
sendiri. Sebenarnya saya sendiri bingung jika harus menjelaskan apa yang
membuat saya tertarik (menyayanginya). Saya akan mencoba mendeskripsikan
tentang dirinya. Mungkin dengan ini, sebagian orang akan mengerti sedikit
tentang dirinya.

Diya telah banyak mengajarkan banyak hal pada saya. Tapi lucunya, dia
tidak menyadari hal itu sama sekali. Diya adalah seorang yang sangat
penyabar. Sampai saat ini, belum pernah satu kalipun ia memarahi saya.
Padahal saya tahu, saya telah melakukan beberapa hal yang kurang pantas
dan telah membuatnya terluka berulangkali. Tapi entah kenapa, ia selalu
menerima saya, bahkan ia selalu yang pertama kali meminta maaf jika
terjadi sesuatu di antara kita(walaupun sebenarnya dia tidak bersalah sama
sekali, tapi ia tetap mungucap maaf yang pertama kali)

Dari sini, Diya telah mengajarkan saya untuk bersabar dan cepat meminta
maaf. Apalagi terhadap orang yang kita cintai… Sampai saat ini, saya
masih dalam proses mempelajarinya. Diya sangat memaklumi diri saya. Dia
tau saya adalah orang yang keras kepala, tidak sabaran dan terkadang
terlalu gengsi untuk mengucap maaf… Tapi dengan sabar, ia terus
membimbing saya. Saya sering merasa malu karenanya.

Diya juga seorang yang amat sederhana dan apa adanya. Begitu berbeda
dengan saya. Karena saya termasuk orang yang royal. Tapi ia tidak lantas
menyuruhku untuk mengikuti gaya hidupnya. Ia hanya melakukan berbagai
tindakan kongkret yang pada akhirnya menyadarkan saya.

Diya tahu, saya adalah orang yang sulit untuk menyampaikan apa yang saya
rasakan kecuali melalui tulisan. Hal ini sering membut orang2 heran atas
temperamen saya yang cepat berubah. Saya adalah orang yang lebih senang
memendam apa yang saya rasakan. Tapi Diya mengajarkan saya untuk
menyampaikan apa yang saya rasakan dengan porsi dan waktu yang tepat,
tentunya dengan orang yang tepat pula.

Sekarang saya mengerti kenapa orang terkadang sulit mengerti saya.
Sebenarnya itu adalah kesalahan saya sendiri. Diya berbeda dari kebanyakan
orang disekitar saya. Jika ia melihat saya sedang dalam keadaan bad
tempare, ia tidak lantas menghindari saya seperti kebanyakan orang. Diya
justru berada di dekat saya. Ia ingin saya dapat menumpahakan apa yang
saya rasakan. Ia tidak mengijinkan saya melampiaskan kemarahan saya pada
orang lain, karena ia tidak ingin saya dibenci orang atau memiliki musuh.
Diya mengijinkan saya untuk berlatih dengannya. Ia mengijinkan saya untuk
menyampaikan apa saja yang saya rasakan padanya, walaupun dengan porsi dan
waktu yang mungkin kurang tepat. Katanya, seiring dengan waktu, saya akan
tau sendiri porsi dan waktu yang tepat.

Diya sangat rendah hati, ia tidak pernah merasa dirinya hebat. Bahkan
terkadang ia merasa tidak begitu baik untuk bersama denganku. Ia selalu
merasa kalah dengan orang lain. Tapi hal itu tidak membuatnya merasa
terpuruk. Ia malah berusaha keras untuk dapat menjadi lebih baik. Diya
tidak pernah berlama2 dalam keterpurukannya, ia selalu berusaha untuk
bangkit. Diya percaya, sesuatu yang tidak bisa membuatnya mati akan
membuatnya semakin kuat.

Diya bukanlah orang yang suka bergantung pada orang lain. Ia lebih suka
untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Bahkan ia lebih senang dapat
memberi sesuatu kepada orang lain.

Di lingkungannya, Diya bukanlah orang yang dicintai namun bukan juga orang
yang dibenci. Orang-orang hanya menutup diri untuk mengenal Diya lebih
jauh. Namun demikian, Diya tetap memiliki orang2 terdekat. Diya sangat
menyayangi mereka. Terlihat jelas dari keinginannya untuk dapat memberikan
sesuatu pada mereka. Karena ia merasa, dirinya tidak akan menjadi seperti
sekarang ini jika bukan karena mereka.

Diya juga bukanlah orang yang romantis, bukan pula orang yang mengerti
bagaimana cara memperlakukan seorang wanita. Tapi ia selalu ingin membuat
saya bahagia. Baginya yang terpenting adalah melihatku tersenyum bahagia.
Diya tidak suka melihatku menangis. Ia pernah mengatakan pada saya bahwa
segala beban yang ada terasa hilang jika melihat kebahagiaan terpancar di
wajah saya. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya gombal, tapi ketika
saya melihat kesungguhan di matanya ketika mengatakan hal itu, saya
mempercayainya. Mungkin orang juga akan berkata bahwa saya dibutakan oleh
cinta, entahlah… saya tidak berani membantah dan juga mengiyakannya.
Tapi memang, saya percaya padanya dan saya tahu bahawa saya menyayanginya.

Dalam kehidupan saya, Diya memainkan berbagai peran. Terkadang ia
menjalani peran sebagai seorang ayah, kakak, sahabat, musuh bahkan
terkadang menjalani peran sebagai anak kecil yang bandel dan manja. Dengan
segala perannya, terleburlah menjadi sosok yang saya cintai, dialah Diya.

Diya tetaplah seorang manusia biasa yang diselimuti kekurangan tapi apa
gunanya saya menceritakan kekurangannya? Biarlah kalian mengetahuinya
sendiri. Kenalilah ia lebih dekat….

Setelah membaca tulisan ini, saya berharap semua orang akan memperoleh
gambaran tentangnya dan lebih memahami dirinya. Saya juga berharap orang2
akan berhenti menanyakan apa yang saya lihat dari dirinya, saya ingin
semua orang iri pada saya karena ada orang yang mencintai saya seperti
dia.

~ by demoetz on June 22, 2006.

4 Responses to “Diya…”

  1. Wow……. who is he?
    Gila…Aq ampe bengong n g tau haruz komen apa.
    udah dewasa sepertinya…..
    maju terus….
    merinding aq bacanya.
    But i think u r a lucky girl, because u’ve found your man :-D And he finds you.

  2. tulisannya sangaaattt bagus… jadi bangga aku nih.

    aduh dek, seandainya “diya”-ku juga punya pikiran seperti kamu… entahlah, pingin nangis mikirin bagaimana TIDAK MUNGKINNYA “diya”-ku itu akan menulis seperti yang kamu tulis ini… :(

  3. Sama kaya yang pertama :-)

  4. hhhmmmmm……. what a lucky guy…..

Leave a Reply